Pentingnya Komitmen Menjaga Marwah Unisma

Sabtu, 24 Desember 2016 - 09:21 WIB
Diposting oleh: Administrator

Oleh:

Dr. H. Mochtar Data, M.Pd

(Sekretaris Dewan Pembina Yayasan Unisma)

 

Universitas Islam Malang (Unisma) sebagai perguruan tinggi kebanggaan Nahdlatul Ulama saat ini sedang dan akan terus berbenah, bukan saja di bidang pegembangan sarana prasarana namun juga di bidang pengembangan kualitas sumber daya (baik manusia maupun nonmanusia), manajemen pendidikan, social trust, networking, dan pembinaan karakter. Berbagai isu penting tersebut sekarang sedang digarap secara intensif oleh Unisma untuk menjaga marwah .

Menjaga kehormatan diri, nama baik, harga diri (marwah) Universitas Islam Malang menjadi pertaruhan mahal bagi seluruh sivitas akademika. Tekad membangun Unisma setaraf atau bahkan melebihi perguruan tinggi ternama tingkat nasional dan internasional harus menjadi komitmen seluruh sivitas akademika.

Setiap pelaku kegiatan, mulai dari jajaran Yayasan sebagai owner, Rektorat, Dekanat, Unit-unit, seluruh dosen dan karyawan, bahkan karyawan setingkat cleaning service harus terpanggil menjaga marwah Unisma. Tidak boleh ada satu pun unsur pelaku kegiatan yang absen dalam menjaga marwah tersebut.

Yayasan, dengan berbagai kebijakan melalui produk regulasinya menjadi benteng penyangga tegak dan kokohnya pilar-pilar dalam membangun Unisma. Rektorat dan Dekanat, Direktur Program Pascasarjana (PPS) Unisma, Direktur Rumah Sakit Islam Unisma, Direktur Politeknik Unisma, Kepala SMA Islam Nusantara (SMAINUS) Unisma, Direktur Pondok Pesantren Ainul Yaqin Unisma, dan lain-lain sebagai unit pelaksana kegiatan Unisma wajib berkhidmat untuk berkiprah mengisi slot-slot pekerjaan di bawah bendera Yayasan Unisma.

Trilogi yang telah digagas oleh para pendiri Unisma, keikhlasan, kejujuran, dan kerukunan, harus terus diaplikasikan dalam mengelola unit pelaksana kegiatan Yayasan Unisma. Kesenjangan dan perbedaan yang terjadi dalam bertindak dan berkomunikasi sesama pelaku kegiatan harus dipandang sebagai sebuah dinamika yang perlu diatasi secara arif. Harus terus dikembangkan sistem komunikasi dan perilaku yang santun, efektif, dan bermartabat.

Semua pemimpin dalam segala jenjang harus mampu tampil sebagai pribadi yang visioner, humanis, komunikatif, dan demokratis dengan tradisi ke-NU-an yang kuat. Semangat untuk terus menghidupi dan mengembangkan Unisma harus mampu mengalahkan semangat sekadar mencari kehidupan yang pada ujungnya hanya akan menggerogoti Unisma. Kita dituntut memikul beban tiga amanat kepercayaan, baik kepercayaan masyarakat, kepercayaan pemerintah, maupun kepercayaan Allah SWT. Tiga amanat kepercayaan inilah yang pada akhirnya menjadi kunci dalam menjaga marwah Unisma.